Dwiswn’s Weblog

AY Dwi Suwarno’s Weblog

Surabaya Semarang Yogya Solo Nopember 2015

Posted by dwiswn on November 7, 2015

Hari Sabtu 30 Oktober 2015 yang lalu, saya ada keperluan keluarga di Solo. Biasanya dari Surabaya menuju Solo, saya lewat jalur selatan : Mojokerto – Caruban – Ngawi, tapi adanya info dari keponakan yg tinggal di Semarang bahwa jalur Semarang-Solo sekarang nyaman dan lancar setelah adanya tol Semarang-Bawen, dari Surabaya saya lewat pantura ke Semarang dulu, nginap semalam, besoknya baru ke Solo. Oh ya, sebelumnya saya juga cari info ke teman2 yg biasa lewat pantura, bagaimana kondisi jalur pantura sekarang ini, disampaikan bahwa saat ini cukup ok.

Surabaya Lamongan Tuban Pati Semarang

Sekitar pukul 6.00 pagi kami, saya dan isteri start dari rumah Surabaya, lewat jalan tol kota Satelit-Kebomas Gresik. Tol Dupak Gresik sekarang sudah mulus, aspal baru. Sampai dengan Babat, jalan lebar dan banyak yg sudah dua jalur, ada pemisahnya, istilah di Surabaya “jalan kembar” sehingga cukup nyaman, bisa menyalib truk, trailer dan kendaraan angkutan besar lainnya dengan mudah. Sampai Semarang, kondisi jalan secara umum cukup bagus. Memang ada beberapa titik yg membuat tersendat karena adanya perbaikan, peninggian jalan dan pelebaran jembatan tapi tidak lama, sekitar 5-10 menit saja, seingat saya hanya 2 titik.  Di Pati, saya sempat berwisata kuliner ke warung Swike bu Leginah di desa Ngantru, dari Surabaya belok kiri perjalanan sekitar 10 menit. Rasa maknyuss, seporsi 20 rb..

Google Streetview :

https://l.facebook.com/l.php?u=https%3A%2F%2Fwww.google.co.id%2Fmaps%2Fplace%2FSwike%2BLeginah%2BNgantru%2BPati%2F%40-6.7738692%2C111.0573784%2C3a%2C75y%2C199.46h%2C82.15t%2Fdata%3D!3m6!1e1!3m4!1syBwSe3a4F56VjuTFFI8qAA!2e0!7i13312!8i6656!4m2!3m1!1s0x2e70d28ffab17e33%3A0xf3a2f9cbb56bd120!6m1!1e1%3Fhl%3Den&h=TAQHrvqHZ

IMG_20151030_110414

Swike Bu Leginah, Ngantru Pati.

Lama perjalanan Surabaya Semarang plus makan Swike dan berhenti satu kali beli BBM sekitar 7.5 jam, cukup ok lah, badan juga nyaman2 saja, ndak pegal-pegal karena kondisi jalan yg cukup mulus dan situasi lalulintas yg lancar, tidak ada yg macet.

Di Semarang, saya bermalam di Hotel Arya Graha yg berada di Jl. Purwosari Raya no 29 A. Sudah beberapa kali saya bermalam di hotel ini dan cukup puas dengan kondisi dan servisnya : Bersih, kamarnya luas, dan ndak mahal, per malam 210 rb rp. Kekurangannya, lokasi bukan di pusat kota dan tidak ada lift, shg walaupun hanya 3 lantai tapi “jantung sehat” juga kalau kita bermalam di lantai 3 dan sudah sampe kamar, ada yg kelupaan tertinggal di mobil dan perlu diambil..!

Google Streetview :

https://www.google.co.id/maps/@-6.9801939,110.4366046,3a,75y,300.54h,111.56t/data=!3m6!1e1!3m4!1sa2-rTaFFRGfd2_wTX9lALg!2e0!7i13312!8i6656!6m1!1e1

Di Semarang, saya sempat mencoba Nasi Goreng dan Babat Gongso Pak Karmin dekat Jembatan mBerok dan Soto Ayam Neon jl. Brumbungan, malamnya jalan2 di Pasar Semawis Gang Warung mencoba Es Puter Duren Cong Lik. Nasi goreng dan babat Gongso pak Karmin cukup ok, harga seporsi masing2 20 rb rp. Es Puter duren Conglik  juga enak, dapet 2 butir duren 20 rb rp. Mengenai soto ayam Neon, saya merasa kurang cocok, terlalu manis dan ndak ada aroma khas soto semarang spt soto bangkong (dulu) atau bahkan warung2 soto ayam kaki lima yg ndak terkenal, tapi rupanya sangat cocok untuk lidah wong Semarang karena ketika saya kesana, warungnya penuh, rame banget..!

Nasi Goreng babat Pak Karmin :

https://www.google.co.id/maps/@-6.9689351,110.4249019,3a,49.2y,122.92h,88.23t/data=!3m6!1e1!3m4!1se3e75oOxUN77SWVKG7cvAA!2e0!7i13312!8i6656?hl=en

IMG_20151101_100859

Semarang Yogyakarta Solo

Sebelum berangkat menuju Solo, ada info kalau ada saudara lain yg siang hari tersebut  juga mendarat di Adisucipto Yogyakarta. Sekalian jalan-jalan saya menuju Yogyakarta dulu sekalian jemput ke airport.

Perjalanan Semarang Yogya sangat lancar, kami menjadi berempat karena tambah 2 keponakan asal Semarang.  Adanya tol Semarang Bawen sangat membantu kelancaran, karena kemacetan biasanya terjadi di jalan antara Semarang Ungaran Bawen. Di Banaran, sebelum Magelang saya istirahat sambil ngopi di Banaran 9 Coffe and Tea.

Banaran 9 Coffe and tea :

https://www.google.co.id/maps/@-7.3137545,110.3332257,3a,75y,274.29h,96.57t/data=!3m6!1e1!3m4!1szIRQSbp9LRMA40zEi0f-wA!2e0!7i13312!8i6656?hl=en

IMG_20151031_095406K

Sampe Sleman jalan mulai macet atau banyak tersendat, seterusnya sampe Bandara Adisucipto. Mungkin karena hari Sabtu, kondisi lalin di Yogya banyak yg macet, prediksi lama perjalanan sampe bandara molor setengah jam lebih.

Di Yogya sempat mampir makan gudeg Yu Narni deket UGM.

https://www.google.co.id/maps/place/Gudeg+Yu+Narni/@-7.7658765,110.3791358,18.75z/data=!4m7!1m4!3m3!1s0x2e7a59b2b6449421:0x57faa7069f98a4f4!2sGudeg+Yu+Narni!3b1!3m1!1s0x2e7a59b2b6449421:0x57faa7069f98a4f4?hl=en

IMG_20151031_123201K

Gudeg Yu Narni

Perjalanan Adisucipto-Solo sebetulnya cukup lancar, tapi sore tersebut di Solo sedang ada acara yg pake nutup jalan utama Slamet Riyadi sehingga banyak jalan yg macet, rame banget. Perjalanan Yogya-Solo yg biasanya hanya sekitar 1 jam atau 1.5 jam, kali ini sampe tujuan di kawasan dekat UNS membutuhkan waktu lebih dari 2 jam..!

Setelah selesai acara keluarga di Solo, sekitar jam 20.00 saya kembali ke Semarang lewat Salatiga. Memang betul jalan raya Semarang Salatiga cukup lebar dan lancar sehingga tanpa terasa sudah sampe Bawen, langsung masuk tol dan tiba di Semarang, pintu tol Gayamsari sekitar jam 22.30, jadi perjalanan Solo-Semarang hanya membutuhkan waktu sekitar 2.5 jam saja.

Gua Maria Kerep

Hari Sabtu malamnya, jadi sehari sebelum ke Solo, saya sempat berziarah ke Gua Maria Kerep Ambarawa, dimana sejak Agustus 2015 yg lalu sudah diresmikan Patung Bunda Maria Asumpta yg sangat indah dan tinggi total nya mencapai  42 m.

https://www.google.co.id/maps/place/Gua+Maria+Kerep+Ambarawa/@-7.2537295,110.398615,17z/data=!4m2!3m1!1s0x2e7081a0ffffffff:0xdbfe4a44f121edca?hl=en

 

DCIM100MEDIA

Di Gua Maria Kerep Ambarawa

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Pintu Air Jagir Srby

Posted by dwiswn on July 6, 2009

Posted by ShoZu

Posted in Uncategorized | Tagged: | 2 Comments »

Jakarta perlu subway, bukan yang lain.

Posted by dwiswn on November 19, 2007

KOMPAS 14 Nopember 2007 :
Ciputra: Atasi Macet dan Banjir, Bangun Jalan Bawah Tanah
JAKARTA, KOMPAS – Pengusaha properti terkemuka, Ciputra, mengusulkan agar pemerintah bersama-sama pihak swasta segera membangun terowongan bawah tanah untuk mengatasi persoalan kemacetan dan banjir di Jakarta.Dalam percakapan dengan Kompas, Senin (12/11) sore, Ciputra menyatakan mendukung jika pemerintah memutuskan membangun terowongan bawah tanah. “Kita dapat membangun terowongan itu sedalam 60 meter sampai 70 meter ke bawah,” katanya.
Di terowongan itu dapat dibangun jalan tol bawah tanah dan subway. Selain itu, dapat juga dibangun saluran yang mengalirkan air limpahan genangan banjir langsung ke laut melalui bawah tanah. “Namun, sebelum masuk ke laut, air itu dapat diolah lagi menjadi air minum. Pihak swasta dapat memanfaatkannya menjadi bisnis,” ungkap Ciputra.
Bisnis “bawah tanah” lainnya, seperti jalan tol dan subway, juga dapat dikembangkan dengan pembangunan mal atau pusat perbelanjaan bawah tanah, yang terkoneksi dengan bangunan di atasnya pada simpul tertentu.
Ciputra berpendapat, pembangunan ini sanggup dikerjakan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak swasta. “Keuntungannya, kita tak perlu lagi membebaskan tanah karena lokasinya ada di bawah tanah. Jadi, tinggal membangun infrastruktur bawah tanah itu,” ujarnya.
Ciputra menambahkan, pembangunan serupa sudah dilaksanakan di Kuala Lumpur, Malaysia; dan Bangkok, Thailand. (KSP)
——————————————————
Berita dari Kompas diatas sangat menarik bagi saya, walaupun saya selama ini bertempat tinggal di Surabaya yang tingkat kemacetannya tidak parah, yang sangat berbeda dengan situasi kemacetan Jakarta saat ini. Hari ini adalah hari Sabtu, 17 Nopember yang artinya sudah tiga hari berita tersebut dimuat di Kompas, saya amati kok belum ada yang menulis atau memberikan tanggapan atas statement Bapak Ciputra tersebut, utamanya dari masyarakat Jakarta sendiri. Seakan gayung tidak bersambut.
Mengomentari salah satu sisi saja dari pembuatan terowongan, yaitu pembangunan rel kereta api subway (selain sebagai penampungan air hujan, mencegah banjir, dan jalan raya bawah tanah) keberadaan angkutan masal kereta api bawah tanah atau subway dibanyak perkotaan yang lazim disebut metro ini benar-benar dirasakan manfaatnya. Media masa memberitakan bahwa minggu lalu Perancis dilanda pemogokan pegawai kereta api, yang mengakibatkan kacau balaunya urusan transportasi di negara tersebut, menunjukkan sedemikian vitalnya mode trans ini.
Hampir semua kota besar, baik yang secara internasional sudah sangat populer, kota2 dagang dunia, ibukota negara, maupun kota yang mungkin masih sangat asing bagi kita saat ini sudah punya subway.

silakan klik : http://people.reed.edu/~reyn/transport.html

Menggunakan jasa metro atau kereta api bawah tanah sebagai alat transportasi di kota besar, terasa menyenangkan : tersedia peta yang jelas, berupa cetakan dan gambar di setiap mesin tiket, biaya umumnya murah, tepat waktu dan bagi yang kurang pintar menggunakan bahasa setempat, penjualan tiket metro umumnya menggunakan mesin tiket, yang dari satu kota lintas negara umumnya hampir mirip cara pengoperasiannya sehingga bahasa bukanlah merupakan kendala. Ini tentu berbeda dengan naik taksi. Dengan naik taksi kita memang bisa “sight seeing”, tetapi kadang2 perlu menggunakan bahasa setempat (misalnya di China), lebih mahal, tidak bebas macet dan kalau lagi sial bisa kena tipu juga.
Ditinjau dari sisi teknik, pembuatan terowongan untuk subway di perkotaan nampaknya bukanlah suatu “ilmu baru” (lihat link diatas), sudah banyak dilakukan sejak puluhan tahun lalu, sehingga tentunya sudah banyak pula tenaga ahlinya. Sementara itu untuk urusan pembebasan tanah yang merupakan faktor sangat krusial di Jakarta sebagai mana yang disampaikan pak Ci juga sangat sedikit, cuma untuk stasiunnya saja.
Dari sisi biaya secara nominal memang besar, tetapi perlu diingat bahwa Indonesia merupakan negara besar. Negara seluas Indonesia, diumpamakan kumpulan arisan, punya anggota yang sangat banyak, jadi biarpun setiap anggota arisan setorannya kecil, saking banyaknya akan menghasilkan nominal yang besar juga demi untuk kebutuhan mendesak ibukota negaranya. Boleh jadi kita dibuat silau saat melihat dan mengamati desain arsitektur dan kecanggihan stasiun metro di MRT Singapore, Bangkok Metro atau MRT nya KL Malaysia. Ya memang karena negara-negara tetangga kita ini jaringan metronya masih baru, jadi sekalian saja mengadobsi teknologi dan sistem terbaru, canggih, mewah yang mungkin bisa membuat “minder”. Padahal sebenarnya tidak harus demikian. Ibarat toko, bisa mewah seperti di mall, atau biasa saja seperti toko tradisional, yang penting bisa terjadi transaksi jual beli. Kebetulan saya mempunyai foto jadul salah satu stasiun metro di DC, US, sekitar awal tahun 90 an. Kelihatan bahwa pada saat itu stasiun metro bawah tanahnya kayak goa, atapnya melengkung kelihatan besi-besinya dan tidak dilengkapi dengan safety door sehingga lorong rel kelihatan menganga. Sementara itu stasiun metro di banyak kota besar China, misalnya Guangzhou, umumnya tidak menyediakan eskalator turunan, hanya untuk naik saja, bahkan di stasiun “pinggiran” kawasan lama, cuma menyediakan eskalator satu segment naik saja, jadi yang dua segment pendek atau satu panjang disuruh jalan kaki. Uniknya, supaya pejalan kaki tidak mengomel, dibeberapa tempat diberi tulisan bahwa jalan kaki naik tangga adalah baik untuk jantung !. Beberapa stasiun yang lama juga tanpa safety door.

Mengenai Guangzhou Metro silakan klik : http://www.urbanrail.net/as/guan/guangzhou.htm

Dari sisi sosial budaya, mungkin timbul keraguan atas kemampuan masyarakat Jakarta yang biasa tidak disiplin, dan perilaku2 negatif lainnya, bolehlah kita bandingkan dengan India yang masyarakatnya juga sangat beragam, pada kenyataannya saat ini sudah punya metro dibeberapa kota besarnya, antara lain bisa klik :

http://www.delhimetrorail.com/commuters/traveling_bymetro.html

Demikianlah, apabila Jakarta masih dianggap sebagai layaknya kota-kota besar lainnya didunia, penyelesaian problematika kemacetan lalu lintasnyapun adalah yang sudah lazim, paling umum diterapkan, inilah, hanya dengan membangun jaringan subway, bukan yang lain.

Dalam catatan saya setidaknya ada dua “keajaiban” tangan dingin Pak Ciputra, pertama : menyulap Ancol dari “tempat jin buang anak” menjadi seperti sekarang ini. Kedua  : proyek Perumahan Citra Raya Surabaya, dengan keajaiban berupa betul-betul kawasan bebas parkir (yang sebelumnya terasa muskil membebaskan satu kawasanpun dari perparkiran di Surabaya),  selain sebagai kawasan perumahan yang  aman, nyaman, bersih.
Apabila bagi banyak orang merupakan “ketidak-mungkinan”, tidak bagi bapak Ciputra. Pernyataan bapak Ciputra patutlah di cermati dan di tindak lanjuti.
Station Metro di Washington DC awal 90 an   Station Metro Guangzhou tanpa safety door, China 2005   Station Metro di Guangzhou, China 2007

Posted in Uncategorized | 9 Comments »

Pengalaman Operasi katarak

Posted by dwiswn on November 10, 2007

Sekitar dua-tiga tahun lalu saya merasa ada suatu kelainan penglihatan pada salah satu mata saya, dalam hal ini mata sebelah kanan. Kelainan tersebut adalah, apabila melihat melalui mata kanan saja, obyek yang nampak seakan-akan terhalang suatu lapisan tipis, semacam melalui kaca mata pengaman pada helm yang masih lumayan baru. Gangguan ini kurang saya perhatikan karena memang sejak dulu saya sudah berkacamata minus, selain itu juga tidak ada gangguan lainnya misalnya adanya rasa sakit atau nyeri, pusing, mata lelah dll. Beberapa bulan kemudian gangguan penglihatan pada mata kanan tersebut saya rasakan semakin besar, berupa seakan-akan melihat melalui kantung plastik atau kacamata helm yang berdebu. Akibatnya apabila melihat langsung lampu yang sedang menyala menjadi sangat menyilaukan. Betul betul sangat mengganggu khususnya pada saat mengemudikan mobil dimalam hari. Setelah berkonsultasi ke dokter mata, mata sebelah kanan dinyatakan kena katarak ringan. Oleh dokter saya diberi vitaman sari bilberry dan dua macam obat tetes, pertama untuk memperlambat atau mengurangi katarak, satunya lagi berfungsi memperlebar sementara kornea. Mata kanan saya yang buram kalau digunakan melihat menjadi terang dan bersih layaknya mata kiri saya apabila habis ditetesi obat mata yang kedua. Tentu saja saya merasa senang dan tenang, saat itu saya merasa bahwa permasalahan mata kanan saya sudah beres, layaknya mata yang sehat, kalau kena debu, kabur, gatal-gatal, merah, atau pedih gara-gara kemasukan sabun misalnya, tinggal ditetesi obat tetes mata biasa, langsung enak dan sejuk kembali. Selanjutnya, apabila obat tetes yang kedua tersebut habis, dengan mudah saya beli lagi ke apotik sambil membawa botol bekasnya, padahal seharusnya menggunakan resep dokter. Kondisi mata kanan saya yang buram ditetes bersih, buram ditetesi bersih ini berjalan cukup lama juga, sekitar satu tahun lebih. Dengan berlalunya waktu, ternyata obat tetes yang awalnya bisa membeningkan penglihatan tersebut sudah tidak mampu lagi. Mata yang habis ditetesi cuman sedikit bening saja, cahaya lampu mobil tetap menyilaukan dan sumber cahaya lampunya melebar. Akhirnya saya berkonsultasi dan memeriksakan diri ke dokter lagi. Kali ini katarak pada mata kanan saya oleh dokter dinyatakan sudah matang, siap dioperasi.

Operasi katarak.

Yang dimaksudkan dengan katarak adalah berkurangnya kejernihan lensa mata, umumnya karena pertambahan usia. Lebih lanjut dapat dibaca di
http://www.cataract.com.sg/abtcat.htm.
Setelah menimbang berbagai sisi meliputi ketersediaan peralatan dan teknologi, reputasi dokter dan rumah sakit mata, serta biaya, saya merasa mantap operasi katarak di Rumah Sakit Undaan, Surabaya.
Sebagai persiapan awal sebelum operasi, tekanan bola mata, tekanan darah dan gula darah mutlak harus di normalkan dulu. Sejauh mana dianggap normal, untuk tekanan darah dan gula darah adalah yang sudah biasa kita kenal bersama melalu hasil pemeriksaan lab klinik, sedangkan mengenai tekanan bola mata, alat ukurnya hanya ada ditempat praktek dokter mata. Caranya, setelah ditetesi semacam obat tetes mata yang terasa agak pedih, tunggu sebentar, dokter menempelkan suatu alat ke bola mata saya, untuk kasus saya dokter menyatakan normal, artinya dari sisi tekanan bola mata, saya siap operasi.
Gula darah saya juga masih masuk dalam batas normal, sedangkan tekanan darah dinilai tinggi, yaitu saat di ukur di tempat praktek dokter mata, tekanan darah saya adalah 150/90, oleh sebab itu saya di rujuk ke dokter spesialis penyakit dalam. Karena nilai tekanan darah untuk orang berusia 50 an seperti saya masih dalam katagori agak tinggi saja, saya hanya diberi obat penurun tekanan darah yang ringan sebanyak 10 tablet diminum satu tablet sehari. Tiga hari kemudian saya kembali memeriksakan diri ke dokter mata untuk memeriksa ulang kondisi tekanan darah saya dan kalau sudah dinyatakan OK sekalian menentukan kapan dapat dilakukan operasi. Saat itu ternyata tekanan darah saya cukup baik, yaitu 140/80. sehingga pembicaraan dengan dokter bisa langsung menentukan kapan dapat dilakukan operasi disertai memberikan pendahulan penjelasan perihal beberapa paket operasi katarak yang tersedia. Saya memilih paket yang saat ini termasuk modern, yaitu sistem operasi katarak yang disebut “phaco emulsification” dan penggunaan lensa implant (lensa yang ditanam) yang bisa dilipat dulu (foldable lense) saat di tanamkan ke rumah lensa mata saya.
Keuntungan dari sistem ini adalah, sayatan untuk mengeluarkan lensa mata saya yang keruh cukup kecil saja sekitar 3 mm, caranya lensa mata saya diemulsikan lebih dulu sehingga hancur dan dapat dikeluarkan melalui sayatan kecil tersebut. Selanjutnya karena menggunakan lensa yang awalnya terlipat, lensa implant yang baru dapat langsung dimasukkan cukup melalui sayatan yang ada, tidak perlu dilebarkan lagi, alhasil karena sayatan yang ada cukup kecil tidak perlu dijahit dan penyembuhan lebih cepat. Di Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya, biaya untuk paket tersebut adalah 8.2 juta. Apabila dibandingkan operasi di Singapore (dapat dilihat dari link diatas) dengan sistem yang sama ternyata jauh lebih mahal, berkisar dua sampai empat kalinya.
Sebagaimana layaknya ganti kacamata, lensa pada mata manusia ternyata mempunyai ukuran yang berbeda-beda juga, oleh sebeb itu sebelum operasi, perlu dilakukan pengukuran lensa mata saya guna menentukan ukuran lensa implant berapa saja yang cocok. Dari hasil pemeriksaan, ternyata saya kurang beruntung karena ketersediaan lensa implant yang pas untuk saya di rumah sakit ini lagi kosong, jadi terpaksa menunggu kiriman sekitar dua hari. Oleh pihak rumah sakit saya dijanjikan akan ditelpon apabila lensa yang saya butuhkan sudah tiba. Benar juga, keesokan harinya saya ditelpon oleh rumah sakit bahwa lensa yang saya perlukan sudah datang. Oleh dokter dinyatakan operasi bisa dilakukan besok pagi jam 8.00 pagi, sedangkan saya harus hadir dua jam sebelumnya. Persiapan dirumah sebelum operasi tidak ada yang spesifik, makan seperti biasa saja.
Sesuai hari yang disepakati, jam 6.00 saya sudah hadir dirumah sakit. Tenggang waktu dua jam ini digunakan sebagai persiapan operasi meliputi pemeriksaan dan menormalkan tekanan darah, mencukur bulu mata dan melebarkan kornea melalui pemberian tetes mata. Dalam pemeriksaan, tekanan darah saya lebih baik dan normal dari sebelumnya, beberapa kali pengukuran menunjukkan 130/80. Selama itu saya disarankan tidur2an saja menunggu saat operasi diruang rawat inap, sementara itu baju dan celana untuk operasi warna hijau muda sudah saya kenakan. Sekitar seperempat jam sebelum operasi, saya dipanggil masuk ke dalam bangunan khusus operasi. Jarak kedua gedung yang menempel ini sekitar 20 an meter. Saya juga diharuskan menumpang kursi roda yang sudah disediakan walaupun sebenarnya saya rasakan tidak perlu. Saya lihat di lorong tersebut telah menunggu beberapa pasien lainnya. Ruang operasi disini rupanya cukup banyak juga, kelihatannya lebih dari lima ruangan. Sambil menunggu giliran, salah satu perawat yang saya sangat ramah memberi saya topi kain dan membantu memakaikannya dikepala saya, telinga kanan saya juga disumbat dengan kapas, gunanya adalah agar selama operasi dilakukan, aliran air peralatan selama operasi dilakukan tidak masuk ke telinga saya.
Tidak lama kemudian saya dipanggil serta dituntun secara sangat hati-hati oleh seorang perawat masuk keruang operasi.
Ruang operasi tersebut berukuran sekitar empat kali enam meter dengan posisi meja operasi di tengah-tengah. Saya perhatikan berbagai peralatan yang bergelantungan seputar meja atau tempat berbaring operasi seperti peralatan dokter gigi. Setelah disuruh berbaring, saya diselimuti sampai keleher, sementara itu tangan dan kaki tidak diikat dan tekanan darah tidak dimonitor seperti saat saya operasi usus buntu enam tahun yang lalu. Beberapa saat kemudian dokter masuk ruang operasi. Setelah basa-basi sebentar dengan saya, dokter melanjutkan berbicara dengan dua perawat yang membantu operasi, kelihatannya mengkonfirmasi kesiapan melakukan operasi. Setelah semuanya OK, saya disuntik pemati rasa satu kali pada sekitar atas pipi bawah kelopak mata kanan saya serta pada mata saya di tetesi obat tetes pemati rasa. Wajah saya kemudian ditutup dengan kain yang berlubang pada posisi mata yang akan dioperasi. Pengaruh obat pemati rasa terasa biasa saja, tidak terasa tebal seperti pemati rasa saat cabut gigi. Selama operasi saya tetap sadar, perasaan juga biasa saja. Saat operasi rupanya banyak menggunakan air yang membasahi sebagian punggung kanan saya. Ketidak nyamanan yang saya rasakan adalah akibat silaunya pandangan. Tahapan operasi yang meliputi penyayatan, pengeluaran lensa yang keruh serta penananam lensa baru, kalau tidak diberi tahu oleh dokter yang mengoperasi, saya tentulah tidak tahu, saat itu rasanya hanya cahaya silau lalu lalang di mata saya saja. Operasi ternyata cukup singkat saja, sekitar 20 menit sudah selesai, cepit pembuka kelopak mata dilepas, saya disuruh memejamkan mata untuk selanjutnya ditutup perban. Kembali saya dituntun secara lebih hati-hati oleh perawat keluar ruang operasi tetapi masih dibangunan utama operasi. Sambil duduk dengan mata yang habis dioperasi di tutup perban, saat itu saya hanya merasa agak pening sebentar. Beberapa saat kemudian saya dituntun lagi menuju kursi roda yang sudah disediakan, yang kali ini saya rasakan perlu dan nyaman tinggal duduk saja membawa saya ke ruang rawat inap. Beberapa saat kemudian saya diberi suntikan antibiotika dan anti radang. Sebenarnya setelah beristirahat sekitar setengah jam, saya sudah diijinkan pulang untuk sore harinya kembali lagi diberi suntikan yang diperlukan, tetapi untuk kepraktisan, saya tunggu saja sampai jadual suntikan bisa diberikan yaitu sekitar jam 3 sore. Demikianlah, selesai disuntik, menyelesaikan urusan admnstrasi pembayaran dan pesan dokter agar kembali lagi besok paginya, saya pulang kerumah. Tidak ada kewaspadaan khusus yang harus saya patuhi, umumnya secara logika tentulah harus demikian, antara lain tidak boleh kemasukan air, kena sabun, mengucek-ucek mata, membungkuk terlalu dalam dll. Selama dirumah mulai sore, malam hari, tidur, sampai pagi harinya saya tidak merasa ada sesuatu yang mengganggu, hanya terasa agak gatal saja pagi harinya. Malam itu sebenarnya saya sangat ingin sedikit menggeser perban yang menutup mata saya rapat sekali, untuk sekadar men tes hasil operasi, tapi rupanya perban menutup sangat rapat, saya gagal mencari celah, akhirnya saya pikir OK lah besok saja, sedikit kesabaran sekitar 10 jam an.
Sesuai pesan dokter, keesokan harinya sekitar jam 07.30 pagi saya sudah hadir kembali di rumah sakit. Masuk keruang praktek dokter, inilah saat yang saya tunggu yaitu melepas perban. Begitu perban di lepas, byar, saya merasa obyek seputar ruang praktek begitu terang. Selama sekitar satu tahun praktis melihat dengan satu mata, dengan dua mata saat itu, saya melihat kedalaman suatu obyek menjadi begitu nyata. Selanjutnya kondisi hasil operasi diperiksa lagi dan dilakukan pengetesan melihat jauh dengan membaca huruf berbagai ukuran seperti di toko kacamata, disini ternyata saya mampu membaca sampai dengan ukuran diatas huruf yang terkecil, kondisi yang dianggap sangat bagus. Berikutnya saya diberi resep obat tetes mata antibiotika dan anti radang, sedangkan mata saya yang habis operasi dibiarkan terbuka tidak diperban. Sebagai pilihan saya boleh menggunakan semacam kaca bundar yang bening, dibeli diapotik untuk menutupi mata, untuk mencegah debu masuk. Selama perjalanan pulang tiada henti saya memandang jalan, bangunan, pohon dan lain2 yang terlihat lebih jernih dan betul betul nampak kedalaman atau perbedaan jarak antar obyek. Hari ini adalah hari ketiga setelah operasi, rasa gatal yang sebelumnya kadang kadang timbul tidak lagi saya rasakan. Saya betul betul merasa nyaman.
Sesuatu yang saya sesali saat itu hanya, mengapa tidak lebih awal saya melakukan operasi katarak ini.

Ilustrasi :

penglihatan mata yang normal :

bayangan pada mata normal

Awal katarak :

Katarak awal

Sebelum operasi :

berat.jpg

Posted in Uncategorized | 132 Comments »

Taman kota Surabaya

Posted by dwiswn on November 6, 2007

Sebagai warga kota Surabaya yang tiap hari hanya menyelusuri seputar jalan2 di kota, saya merasa biasa2 saja, tidak ada yang istimewa dengan maraknya pembuatan taman2 kota dan taman2 median jalan. Itu saya rasakan sebelum mudik seputar Lebaran lalu ke Solo. Sepulang kembali ke Surabaya setelah mudik dan menyelusuri jalan2 dan keluar masuk kota2 lain seperti Mojokerto, Madiun, Solo dan kotakecil lainnya, saat masuk ke dalam kota Surabaya, wah…barulah saat itu saya merasakan betapa bersih dan asrinya kota saya ini. Memang, sejauh belum ada perbandingan, sesuatu akan nampak biasa2 saja.
Surabaya saat ini, dari sisi kebersihan dan keasrian taman2nya benar2 patut di acungi jempol. Dari beberapa media massa diketahui bahwa hal ini rupanya tidak lepas dari tangan dingin ibu Ir. Risma sebagai “bos” urusan kebersihan dan pertamanan Surabaya.
Kemarin (06112007) saya baca di harian Jawapos bahwa Ibu Ir. Risma akan dimutasi.
Buat Ibu Risma selamat berprestasi di tempat baru dan semoga pengganti ibu Risma tidak kalah kiprahnya mempertahankan bahkan meningkatkan kebersihan dan keasrian kota Surabaya.

hr-satelit.jpg  dr-sutomo.jpg  sulawesi.jpg  hr-pt-kuda.jpg

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

You are My Sunshine, My only Sunshine

Posted by dwiswn on November 3, 2007

You are My Sunshine, My only Sunshine      
          

  Like any good mother, when Karen found out that another baby was on
the way, she did what she could to help her 3-year-old son, Michael,
prepare for a new sibling.

  They found out that the new baby was going be a girl, and day after
day, night after night, Michael sang to his sister in mummy’s tummy. He
was building a bond of love with his little sister before he even met
her.

  The pregnancy progressed normally for Karen, an active member of the
Panther Creek United Methodist Church in Morristown , Tennessee , USA .
In time, the labor pains came. Soon it was every five minutes, every
three, every minute. But serious complications arose during delivery and
Karen found herself in hours of labor. Would a C-section be required?
Finally, after a long struggle, Michael’s little sister was born. But
she was in very serious condition.  With a siren howling in the night,
the ambulance rushed the infant to the neo-natal intensive care unit at
St. Mary’s Hospital, Knoxville , Tennessee .
  The days inched by.
  The little girl got worse. The pediatrician had to tell the parents
there was very little hope. Be prepared for the worst. Karen and her
husband contacted a local cemetery about a burial plot.

  They had fixed up a special room in their house for their new baby
but now they found themselves having to plan for a funeral. Michael,
however, kept begging his parents to let him see his sister. I want to sing
to her, he kept saying.

  Week two in intensive care looked as if a funeral would come before
the week was over. Michael kept nagging about singing to his sister,but
kids are never allowed into the Intensive Care Unit.

  Karen decided to take Michael whether they at the hospital liked it
or not.
  If he didn’t see his sister right then, he may never see her alive.
She dressed him in an oversized scrub suit and marched him into ICU. He
looked like a walking laundry basket. The head nurse recognized him as
a child and bellowed, “Get that kid out of here now. No children are
allowed.”  

  The mother rose up strong in Karen, and the usually mild-mannered
woman glared steel-eyed right into the head nurse’s face, her lips a firm
line.  “He is not leaving until he sings to his sister” she scathed.
Then Karen towed Michael to his little sister’s bedside.

  He gazed at the tiny infant losing the battle to live. After a
moment, he began to sing. In the pure-hearted voice of a 3-year-old, Michael
sang: “You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when
skies are grey.” Instantly the baby girl seemed to respond. The pulse
rate began to calm down and become steady.
  “Keep on singing, Michael,” encouraged Karen with tears in her eyes.
“You never know, dear, how much I love you, please don’t take my
sunshine away.”

  As Michael sang to his sister, the baby’s ragged, strained breathing
became as smooth as a kitten’s purr.  “Keep on singing, sweetheart
  .”  “The other night, dear, as I lay sleeping, I dreamed I held you
in my arms”. Michael’s little sister began to relax as rest, healing
rest, seemed to sweep over her.
  “Keep on singing, Michael.” Tears had now conquered the face of the
bossy head nurse. Karen glowed. “You are my sunshine, my only sunshine.
Please don’t take my sunshine away…”

  The next day…the very next day…the little girl was well enough to
go home.
  Woman’s Day Magazine called it The Miracle of a Brother’s Song. The
medical staff just called it a miracle. Karen called it a miracle of
God’s love.

                         NEVER  GIVE  UP  ON  THE  PEOPLE  YOU  LOVE! 

                                LOVE IS  SO INCREDIBLY POWERFUL
  
       GOD  IS  LOVE  &  LOVE  COMES  FROM  GOD

        Just send this to at least (4) people you care about. This is a
true story
          and good news seems rarely to happen. So spread this good
news!   

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Hello world!

Posted by dwiswn on November 3, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 8 Comments »