Pengalaman Operasi katarak
Posted by dwiswn on November 10, 2007
Sekitar dua-tiga tahun lalu saya merasa ada suatu kelainan penglihatan pada salah satu mata saya, dalam hal ini mata sebelah kanan. Kelainan tersebut adalah, apabila melihat melalui mata kanan saja, obyek yang nampak seakan-akan terhalang suatu lapisan tipis, semacam melalui kaca mata pengaman pada helm yang masih lumayan baru. Gangguan ini kurang saya perhatikan karena memang sejak dulu saya sudah berkacamata minus, selain itu juga tidak ada gangguan lainnya misalnya adanya rasa sakit atau nyeri, pusing, mata lelah dll. Beberapa bulan kemudian gangguan penglihatan pada mata kanan tersebut saya rasakan semakin besar, berupa seakan-akan melihat melalui kantung plastik atau kacamata helm yang berdebu. Akibatnya apabila melihat langsung lampu yang sedang menyala menjadi sangat menyilaukan. Betul betul sangat mengganggu khususnya pada saat mengemudikan mobil dimalam hari. Setelah berkonsultasi ke dokter mata, mata sebelah kanan dinyatakan kena katarak ringan. Oleh dokter saya diberi vitaman sari bilberry dan dua macam obat tetes, pertama untuk memperlambat atau mengurangi katarak, satunya lagi berfungsi memperlebar sementara kornea. Mata kanan saya yang buram kalau digunakan melihat menjadi terang dan bersih layaknya mata kiri saya apabila habis ditetesi obat mata yang kedua. Tentu saja saya merasa senang dan tenang, saat itu saya merasa bahwa permasalahan mata kanan saya sudah beres, layaknya mata yang sehat, kalau kena debu, kabur, gatal-gatal, merah, atau pedih gara-gara kemasukan sabun misalnya, tinggal ditetesi obat tetes mata biasa, langsung enak dan sejuk kembali. Selanjutnya, apabila obat tetes yang kedua tersebut habis, dengan mudah saya beli lagi ke apotik sambil membawa botol bekasnya, padahal seharusnya menggunakan resep dokter. Kondisi mata kanan saya yang buram ditetes bersih, buram ditetesi bersih ini berjalan cukup lama juga, sekitar satu tahun lebih. Dengan berlalunya waktu, ternyata obat tetes yang awalnya bisa membeningkan penglihatan tersebut sudah tidak mampu lagi. Mata yang habis ditetesi cuman sedikit bening saja, cahaya lampu mobil tetap menyilaukan dan sumber cahaya lampunya melebar. Akhirnya saya berkonsultasi dan memeriksakan diri ke dokter lagi. Kali ini katarak pada mata kanan saya oleh dokter dinyatakan sudah matang, siap dioperasi.
Operasi katarak.
Yang dimaksudkan dengan katarak adalah berkurangnya kejernihan lensa mata, umumnya karena pertambahan usia. Lebih lanjut dapat dibaca di
http://www.cataract.com.sg/abtcat.htm.
Setelah menimbang berbagai sisi meliputi ketersediaan peralatan dan teknologi, reputasi dokter dan rumah sakit mata, serta biaya, saya merasa mantap operasi katarak di Rumah Sakit Undaan, Surabaya.
Sebagai persiapan awal sebelum operasi, tekanan bola mata, tekanan darah dan gula darah mutlak harus di normalkan dulu. Sejauh mana dianggap normal, untuk tekanan darah dan gula darah adalah yang sudah biasa kita kenal bersama melalu hasil pemeriksaan lab klinik, sedangkan mengenai tekanan bola mata, alat ukurnya hanya ada ditempat praktek dokter mata. Caranya, setelah ditetesi semacam obat tetes mata yang terasa agak pedih, tunggu sebentar, dokter menempelkan suatu alat ke bola mata saya, untuk kasus saya dokter menyatakan normal, artinya dari sisi tekanan bola mata, saya siap operasi.
Gula darah saya juga masih masuk dalam batas normal, sedangkan tekanan darah dinilai tinggi, yaitu saat di ukur di tempat praktek dokter mata, tekanan darah saya adalah 150/90, oleh sebab itu saya di rujuk ke dokter spesialis penyakit dalam. Karena nilai tekanan darah untuk orang berusia 50 an seperti saya masih dalam katagori agak tinggi saja, saya hanya diberi obat penurun tekanan darah yang ringan sebanyak 10 tablet diminum satu tablet sehari. Tiga hari kemudian saya kembali memeriksakan diri ke dokter mata untuk memeriksa ulang kondisi tekanan darah saya dan kalau sudah dinyatakan OK sekalian menentukan kapan dapat dilakukan operasi. Saat itu ternyata tekanan darah saya cukup baik, yaitu 140/80. sehingga pembicaraan dengan dokter bisa langsung menentukan kapan dapat dilakukan operasi disertai memberikan pendahulan penjelasan perihal beberapa paket operasi katarak yang tersedia. Saya memilih paket yang saat ini termasuk modern, yaitu sistem operasi katarak yang disebut “phaco emulsification” dan penggunaan lensa implant (lensa yang ditanam) yang bisa dilipat dulu (foldable lense) saat di tanamkan ke rumah lensa mata saya.
Keuntungan dari sistem ini adalah, sayatan untuk mengeluarkan lensa mata saya yang keruh cukup kecil saja sekitar 3 mm, caranya lensa mata saya diemulsikan lebih dulu sehingga hancur dan dapat dikeluarkan melalui sayatan kecil tersebut. Selanjutnya karena menggunakan lensa yang awalnya terlipat, lensa implant yang baru dapat langsung dimasukkan cukup melalui sayatan yang ada, tidak perlu dilebarkan lagi, alhasil karena sayatan yang ada cukup kecil tidak perlu dijahit dan penyembuhan lebih cepat. Di Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya, biaya untuk paket tersebut adalah 8.2 juta. Apabila dibandingkan operasi di Singapore (dapat dilihat dari link diatas) dengan sistem yang sama ternyata jauh lebih mahal, berkisar dua sampai empat kalinya.
Sebagaimana layaknya ganti kacamata, lensa pada mata manusia ternyata mempunyai ukuran yang berbeda-beda juga, oleh sebeb itu sebelum operasi, perlu dilakukan pengukuran lensa mata saya guna menentukan ukuran lensa implant berapa saja yang cocok. Dari hasil pemeriksaan, ternyata saya kurang beruntung karena ketersediaan lensa implant yang pas untuk saya di rumah sakit ini lagi kosong, jadi terpaksa menunggu kiriman sekitar dua hari. Oleh pihak rumah sakit saya dijanjikan akan ditelpon apabila lensa yang saya butuhkan sudah tiba. Benar juga, keesokan harinya saya ditelpon oleh rumah sakit bahwa lensa yang saya perlukan sudah datang. Oleh dokter dinyatakan operasi bisa dilakukan besok pagi jam 8.00 pagi, sedangkan saya harus hadir dua jam sebelumnya. Persiapan dirumah sebelum operasi tidak ada yang spesifik, makan seperti biasa saja.
Sesuai hari yang disepakati, jam 6.00 saya sudah hadir dirumah sakit. Tenggang waktu dua jam ini digunakan sebagai persiapan operasi meliputi pemeriksaan dan menormalkan tekanan darah, mencukur bulu mata dan melebarkan kornea melalui pemberian tetes mata. Dalam pemeriksaan, tekanan darah saya lebih baik dan normal dari sebelumnya, beberapa kali pengukuran menunjukkan 130/80. Selama itu saya disarankan tidur2an saja menunggu saat operasi diruang rawat inap, sementara itu baju dan celana untuk operasi warna hijau muda sudah saya kenakan. Sekitar seperempat jam sebelum operasi, saya dipanggil masuk ke dalam bangunan khusus operasi. Jarak kedua gedung yang menempel ini sekitar 20 an meter. Saya juga diharuskan menumpang kursi roda yang sudah disediakan walaupun sebenarnya saya rasakan tidak perlu. Saya lihat di lorong tersebut telah menunggu beberapa pasien lainnya. Ruang operasi disini rupanya cukup banyak juga, kelihatannya lebih dari lima ruangan. Sambil menunggu giliran, salah satu perawat yang saya sangat ramah memberi saya topi kain dan membantu memakaikannya dikepala saya, telinga kanan saya juga disumbat dengan kapas, gunanya adalah agar selama operasi dilakukan, aliran air peralatan selama operasi dilakukan tidak masuk ke telinga saya.
Tidak lama kemudian saya dipanggil serta dituntun secara sangat hati-hati oleh seorang perawat masuk keruang operasi.
Ruang operasi tersebut berukuran sekitar empat kali enam meter dengan posisi meja operasi di tengah-tengah. Saya perhatikan berbagai peralatan yang bergelantungan seputar meja atau tempat berbaring operasi seperti peralatan dokter gigi. Setelah disuruh berbaring, saya diselimuti sampai keleher, sementara itu tangan dan kaki tidak diikat dan tekanan darah tidak dimonitor seperti saat saya operasi usus buntu enam tahun yang lalu. Beberapa saat kemudian dokter masuk ruang operasi. Setelah basa-basi sebentar dengan saya, dokter melanjutkan berbicara dengan dua perawat yang membantu operasi, kelihatannya mengkonfirmasi kesiapan melakukan operasi. Setelah semuanya OK, saya disuntik pemati rasa satu kali pada sekitar atas pipi bawah kelopak mata kanan saya serta pada mata saya di tetesi obat tetes pemati rasa. Wajah saya kemudian ditutup dengan kain yang berlubang pada posisi mata yang akan dioperasi. Pengaruh obat pemati rasa terasa biasa saja, tidak terasa tebal seperti pemati rasa saat cabut gigi. Selama operasi saya tetap sadar, perasaan juga biasa saja. Saat operasi rupanya banyak menggunakan air yang membasahi sebagian punggung kanan saya. Ketidak nyamanan yang saya rasakan adalah akibat silaunya pandangan. Tahapan operasi yang meliputi penyayatan, pengeluaran lensa yang keruh serta penananam lensa baru, kalau tidak diberi tahu oleh dokter yang mengoperasi, saya tentulah tidak tahu, saat itu rasanya hanya cahaya silau lalu lalang di mata saya saja. Operasi ternyata cukup singkat saja, sekitar 20 menit sudah selesai, cepit pembuka kelopak mata dilepas, saya disuruh memejamkan mata untuk selanjutnya ditutup perban. Kembali saya dituntun secara lebih hati-hati oleh perawat keluar ruang operasi tetapi masih dibangunan utama operasi. Sambil duduk dengan mata yang habis dioperasi di tutup perban, saat itu saya hanya merasa agak pening sebentar. Beberapa saat kemudian saya dituntun lagi menuju kursi roda yang sudah disediakan, yang kali ini saya rasakan perlu dan nyaman tinggal duduk saja membawa saya ke ruang rawat inap. Beberapa saat kemudian saya diberi suntikan antibiotika dan anti radang. Sebenarnya setelah beristirahat sekitar setengah jam, saya sudah diijinkan pulang untuk sore harinya kembali lagi diberi suntikan yang diperlukan, tetapi untuk kepraktisan, saya tunggu saja sampai jadual suntikan bisa diberikan yaitu sekitar jam 3 sore. Demikianlah, selesai disuntik, menyelesaikan urusan admnstrasi pembayaran dan pesan dokter agar kembali lagi besok paginya, saya pulang kerumah. Tidak ada kewaspadaan khusus yang harus saya patuhi, umumnya secara logika tentulah harus demikian, antara lain tidak boleh kemasukan air, kena sabun, mengucek-ucek mata, membungkuk terlalu dalam dll. Selama dirumah mulai sore, malam hari, tidur, sampai pagi harinya saya tidak merasa ada sesuatu yang mengganggu, hanya terasa agak gatal saja pagi harinya. Malam itu sebenarnya saya sangat ingin sedikit menggeser perban yang menutup mata saya rapat sekali, untuk sekadar men tes hasil operasi, tapi rupanya perban menutup sangat rapat, saya gagal mencari celah, akhirnya saya pikir OK lah besok saja, sedikit kesabaran sekitar 10 jam an.
Sesuai pesan dokter, keesokan harinya sekitar jam 07.30 pagi saya sudah hadir kembali di rumah sakit. Masuk keruang praktek dokter, inilah saat yang saya tunggu yaitu melepas perban. Begitu perban di lepas, byar, saya merasa obyek seputar ruang praktek begitu terang. Selama sekitar satu tahun praktis melihat dengan satu mata, dengan dua mata saat itu, saya melihat kedalaman suatu obyek menjadi begitu nyata. Selanjutnya kondisi hasil operasi diperiksa lagi dan dilakukan pengetesan melihat jauh dengan membaca huruf berbagai ukuran seperti di toko kacamata, disini ternyata saya mampu membaca sampai dengan ukuran diatas huruf yang terkecil, kondisi yang dianggap sangat bagus. Berikutnya saya diberi resep obat tetes mata antibiotika dan anti radang, sedangkan mata saya yang habis operasi dibiarkan terbuka tidak diperban. Sebagai pilihan saya boleh menggunakan semacam kaca bundar yang bening, dibeli diapotik untuk menutupi mata, untuk mencegah debu masuk. Selama perjalanan pulang tiada henti saya memandang jalan, bangunan, pohon dan lain2 yang terlihat lebih jernih dan betul betul nampak kedalaman atau perbedaan jarak antar obyek. Hari ini adalah hari ketiga setelah operasi, rasa gatal yang sebelumnya kadang kadang timbul tidak lagi saya rasakan. Saya betul betul merasa nyaman.
Sesuatu yang saya sesali saat itu hanya, mengapa tidak lebih awal saya melakukan operasi katarak ini.
Ilustrasi :
penglihatan mata yang normal :
Awal katarak :
Sebelum operasi :



purnawan said
Wah, ciamik,ternyata operasi katarak sangat simple, apalagi kalau dibandingkan dengan hasil yang dicapai setelah operasi. Saran : bisa di info biayanya hehe….
dwiswn said
Thanks for the response. As it is written above (maybe not clear enough to see… my mistake), the cost was 8.2 million rupiahs, compared to Singaporean hospital this amount could be twice to four times.
Mas Nanang said
Dear Mas Dwi,
Syukur kalau operasinya sudah sukses dan bisa melihat seperti sediakala, cuma saya mau tanya
1. Kira-kira umur berapa rata2 yang kena katarak..?
2. Sekarang menggunakan kacamata khusus atau sama seperti sebelumnya..? minusnya tambah atau plusnya.
Salam,
Nanang
dwiswn said
Dear Mas Nanang,
1. Mengenai umur rata2 kena katarak, menurut dokter mata yang yang memeriksa saya, sesorang kena katarak seperti layaknya rambut ubanan, jadi tidak tentu. Saya sendiri usia 50 an sudah kena katarak (kasus sangat kecil), diduga oleh dokter, selain karena penuaan, dulunya mungkin mata kanan saya ini pernah kena trauma, ini ditunjang dengan kondisi mata kiri saya yang masih bersih, sementara kalau kataraknya semata-mata karena aging, kalau salah satu mata kataraknya sudah matang, kondisi mata yang satunya setidaknya sudah ada sedikit kekeruhan.
2. Idealnya untuk melihat jauh tidak memerlukan kacamata, sementara itu untuk melihat dekat atau membaca tetap membutuhkan kacamata plus.
Budiarto said
Dwi, syukur sudah sukses operasinya, semoga segera sembuh total dan lebih segar dari mata bayi. Jangan-jangan malah bisa tembus kain, wah gawat…Tp kalau bisa cukup tembus kain saja, jangan sampai tembus kulit, malah nggilani…
Terima kasih infonya.
dwiswn said
Dear Bud,
Terima kasih atas simpati dan intermeso nya…..hehehe…..anda betul juga.
Salam untuk keluarga.
Mary said
Dear Dwi,
Kakak ku juga baru operasi bln Mei lalu dan sukses, operasinya di JEC, kemudian wkt operasi katara ketahuan retinanya retak dan 2 minggu lalu di Laser argon, dan sekarang sdh ok…
Selamat ya Dwi menikmati ciptaan Tuhan dengan lebih indah….
Salam,
Mary
dwiswn said
Dear Mary,
DearMary
Betul sekali saya sekarang lebih sangat menikmati ciptaan Tuhan dengan lebih indah, terima kasih.
Mengenai retina, karena usia saya yang “baru” 50 an (sebenarnya termasuk jarang sudah terkena katarak) ditambah dengan kondisi mata kiri (yang sehat) ternyata masih bersih/jernih sehingga dikawatirkan mata kanan saya ada kelainan lain, saya juga dirujukkan ke dokter mata sub retina, beruntung ternyata masih OK. Saya juga ikut dan bisa merasakan kebahagiaan kakak anda.
sidi said
Wah selamat dan syukur cak, sampeyan wis iso nyawang padang howo maneh, saiki terang benderang ya? Slametane kudu sing imbang, nek perlu ngajak aku nang XO suki, he..he. Tapi nek mlaku2 karo bojo sampeyan sing ati2, nek ana wong wedok ayu aja mentheleng kaya cameraman mengko dikudang bojo sampeyan. Tapi nek mlaku2 ijen bolehlah sampeyan pelajari perbedaan sebelum dan sesudah operasi, mulai dahi,alis, bibir, dst. Eiit cari perkara! Kapan pul kumpul?
sidi
dwiswn said
Halo Mas Sidi,
Terima kasih atas intermezzo nya.
Nek soal ke XO suki, ..hehe…lha tinggal di runding waktunya saja.
Sekali lagi maturnuwun.
Isnan said
Hallo Mas Dwis
Saya disarankan oleh dokter untuk operasi Phaco.
Setelah membaca tulisan pengalaman Anda ini, saya menjadi lebih berani menghadapi operasi katarak ini.
Terima kasih dan Salam,
Isnan
Serpong Tangerang
dwiswn said
Halo juga mas Isnan,
Silakan segera melakukan operasi saja, mas, semoga sukses dan lancar. Hingga saat ini (Agustus 2008 hasil operasi sangat OK, bahkan saya rasakan lebih terang daripada lensa mata saya yang satunya, yang asli. Komentar kawan saya, lha iya pak Dwi, khan lensa mata anda yang asli sudah dipakai lebih dari 50 tahun!…hehe..
AiQriE said
Halow Om Dwi
saya Ai
saya kena katarak udah dari masi bayi. saya cari2 artikel mengenai katarak, ternyata dari bayi pun mememang bisa terjangkit katarak.. klo smisalkan sperti itu, apakah oprasi yang Om lakukan bisa juga untuk saya yang terkena dari bayi ini??? saya uda pernah oprasi d luar negri pas umur 5 thn, tp sampai skrg mata kanan saya tidak bisa mlihat (bisa liad,tapi buremny bukan maen).. saya juga pengen liad dunia sperti yang om liad..apa lagi saya masi 19 thn..hiks
dwiswn said
Dear Ai,
Wah, usia anda yang masih muda banget, sebaiknya cepet2 aja konsultasi ke dokter mata karena pihak beliau2 inilah yang paham mengenai hal itu. Jangan tunda2lagi ya, prinsipnya mumpung masih muda, berbagai hal yang perlu penyehatan baiknya segera dilakukan. Kalau udah tua, wah bisa muncul berbagai kondisi2 degeneratif seperti darah tinggi, diabetes, dll., yang pastinya bisa mengganggu bahkan menghambat proses penyembuhan. OK ?
Salam,
Dwi S.
Erizal said
Hallo Mas Dwis
Saya berencana segera operasi katarak, tapi saya dibingungkan jenis lensa tanam apa yg harus saya pilih. Dari 4 macam lensa saya disarankan pilih Lensa Monofokal Aspheric atau Lensa Multifokal. Boleh tahu lensa tanam yg mas dwis pakai type apa ?
Dilihat dari biayanya sepertinya bukan yg Aspheric, karena biaya Aspheric sekarang 8.2jt yg seharusnya lebih rendah pada 2thn lalu.
Salam
eri
dwiswn said
Halo juga mas Eri,
Perihal type lensa yang ditanamkan, wah, saat operasi yang lalu tidak diberikan alternatif type lensanya. Boleh jadi adanya kemajuan teknologi lewat 2 tahunan ini sudah ditemukan type lensa yang lebih baru. Perkiraan saya ( maaf lho, ini hanya perkiraan, dari nama type lensa yang mas Eri sampaikan) lensa tanam pada saya adalah yang type monofokal gitu ya, sedangkan yang type multifokal, mungkin type lensa yang berkemampuan merubah jarak fokusnya. Yang tahu persis mengenai hal ini tentunya adalah dokter anda sendiri ya mas Eri. Kalau sudah dapat pencerahan , mohon berbagi disini ya mas.
Terima kasih dan sukses selalu.
Salam,
Dwi S.
fakih said
sy achmad fakih bulan maret ini akan operasi meski msh takut tp mata sy dah parah bgt mas..sy gak pernah operasi jd rada takut tp lensa yg diatwarkan sekitar 13,5 juta satu bukan 8,2 krn untuk multifokal di JEC
fakih said
byw sy kerja di depan komputer 10 jam sehari apakah akann terpengaruh matanya setelah dioperasi mohon dibagi pengalamannya..hp sy 081311229736
dwiswn said
Mas Fakih,
Rasa takut awalnya pasti ada, demikian juga saya dulu, Kenyataannya saya merasa “rugi”, akibat rasa takut, nggak segera kedokter memeriksakan diri. Nah supaya mas Fakih nggak rugi seperti saya, sebaiknya segera operasi saja. Yang penting berbagai persyaratan awal seperti kadar gula darah, kondisi tekanan bola, dll., sesuai persyaratan dokter haruslah terpenuhi.
Mengenai biaya, menurut saya ada kenaikan merupakan hal yang wajar, selain sebagai upaya penerapan kemajuan teknologi yang makin canggih yang pastinya makin nyaman dan aman, salah satu penyebab lainnya mungkin melemahnya nilai rupiah terhadap USD, sementara itu lensa tanam, dll., bukankah merupakan “komoditas impor”.
Mengenai pengaruh kerja di depan monitor, spesifik bagi yang pernah operasi katarak, pastinya saya kurang tahu. Berbagi pengalaman, sejauh ini saya tidak merasakan adanya gangguan yang khas terhadap mata kanan/implant dan yang kiri/normal. Untuk kesehatan dan kenyamanan, saya sudah meninggalkan monitor CRT dan beralih ke LCD.
Salam,
Dwi S.
fakih said
mas dwi aku dah operasi dan br aja 7 hari ya mudah2an sih kerja di dpn komputer gak apa apa ya..aku pgn operasi dua duanya tp nunggu beberapa bulan lagi deh…makasih ya supportnya,.
fakih said
mas dwi aku dah operasi katarak 2 maret lalu alhmadulillah lancar..makasih ya suportnya tapi aku masih harus operasi satu lagi
dwiswn said
Mas Fakih,
Maaf lama menanggapi, terlambat liat adanya email mas Fakih.
Wah, saya ikut senang nih dengan kelancaran operasinya mas Fakih. Pengalaman saya sejauh hampir 2 tahun operasi ini, untuk komputer-an ya baik2 aja kok mas. Untuk kenyamanan baiknya pakai monitor LCD aja, lebih ndak gampang cape.
Awal-awal sesudah operasi, yang perlu diperhatikan adalah kewaspadaan kemungkinan terjadinya infeksi, jadi ada baiknya sementara ini kita jadi “orang penakutan dan sok bersihan” gitu, juga ikuti terus saran dokter lho mas. Kalau ndak salah saya dulu diberi obat tetes mata yang utamanya adalah pencegahan infeksi, dengan dosis makin lama makin rendah, kira2 3 bulan.
Salam makin terang dan makin padang !
fakih said
tapi apakah infeksi itu berbahaya karena obat tetes mata sy dah habis kt dokternya kontrol sebulan lagi..mas..mataku merah hari ini apa mungkin infeksi apa kurang tidur ya..rencananya jelang akhir tahun aku operasi satu lagi mas…makasih bgt yaa
dwiswn said
Mas Fakih,
Menurut saya ada baiknya mas Fakih periksa kembali ke dokter walaupun belum genap satu bulan, terutama karena obat tetesnya sudah habis. Biasanya dokter menyarankan periksa ulang sudah disesuaikan dengan pas habisnya obat, sedangkan pada Mas Fakih, mungkin cukup aktip dan rajin meneteskan sehingga belum jadualnya balik, obat sudah habis.
OK?.
TEGOR said
Terimakasih buat Mas DWis. ini yang telah memaparkan pengalamannya dengan sangat gamblang mengenai operasi kataraknya membuat saya yang mungkin sebenatr lagi akan menjalaninya terasa mendapat pencerahan batin siap mental.
Cuma kalau anda berkenan bisalah kirannya anda ceritakan mengenai bahan dasar apakah lensa pengganti tersebut dibuat.menurut imaj saya kok terus jadi diganti lensa plastik atau apa itu yang berkonotasi negatif bermata beling atau mata serupa benda yang bagaimana hukumnya dilihat dari sudut kacamata agama terkait halal dan haramnya.
mohon maaf kalau pertanyaannya agak membingungkan.
dwiswn said
Yth Mas Agung,
Mohon maaf sebelumnya bahwa saya tidak mengetahui secara detail mengenai bahan maupun implikasi atas penanaman lensa ini dari sisi hukum maupun agama. Terus terang hal ini merupakan suatu pemikiran maupun hal baru yang boleh jadi ada baiknya untuk diketahui banyak kawan-kawan lain yang berencana melakukan implant. Adapun saya sendiri pada saat itu hanyalah berpedoman kepada banyaknya populasi pengguna serta dari sisi reputasi badan dan pelaksana operasi tersebut.
asti said
Mas, mau tanya nih
Ayah sy baru operasi katarak, dg menanam lensa juga, tapi udah 10 hari yg lalu. Tapi sampai hari ini matanya masih meradang-merah, sama dokter cuma dikasih obat tetes mata saja. Dan kadang masih terasa agak mengganjal. apakah lensanya tidak pas ? Atau perlu konsul ke dokter lain ?
Thanks.
dwiswn said
Mbak Asti, maaf sebelumnya saya lambat merespon. Perihal kondisi ayah anda, tentunya dokter anda yang paling tahu karena berbagai data kondisi ayah anda mulai sebelum, selama maupun sesudah operasi pasti nya sudah ada record nya, dengan demikian apa yang telah di lakukan dokter yang bersangkutan tentulah merupakan langkah yang paling baik sehingga saya kira kurang tepat untuk berpindah dokter.
Andreas said
Mas Dwis ikut nanya
Kakek saya(lk 78thn) kurang lebih 1 thn ini agak kurang penglihatannya, dan seminggu yang lalu kami bawa periksa ke dokter (dokter mata tentunya).
Hasil analisa dokter tenyata kakek terkena Katarak dan disarankan Operasi.
Setelah macam2 upaya untuk merayu kakek agar mau dioperasi dilakukan, 2hari yang lalu kakek bersedia dioperasi.
Yang jadi pertanyaan biayanya 5jt,sementara anda menyebutkan 8,2jt?
Apakah operasi katarak tidak harus mengganti lensa mata?
kalau harus ganti kenapa biayanya beda jauh?
Sebagai info aja rumah sakitnya Hidayatullah Jogjakarta,
Rencana operasi nanti malam pukul 21.00.
mohon doanya mas biar lancar.
Trim,s
dwiswn said
Mas Andreas,
Senang sekali akhirnya kakek anda bersedia operasi. Yang perlu diperhatikan sebelum operasi adalah “menormalkan” berbagai parameter seperti tekanan darah, kadar gula, jantung dll., dalam hal tentulah dokter anda yang lebih tahu.
Mengenai biaya saya kira tidak selalu “berbanding lurus” dengan hasil maupun kualitas yang akan diterima. Kebetulan saja saat itu saya dikenai biaya sejumlah tersebut, sementara itu pasien disebelah saya hanya mengeluarkan biaya sekitar separuhnya, dan saat bertemu kembali untuk kontrol beberapa hari kemudian hasilnya juga baik-baik saja. Berbedaan biaya ini kelihatannya disebabkan penerapan teknologi yang dipakai. Teknologi yang lebih lama biasanya mengharuskan adanya sayatan yang relatif panjang sehingga memerlukan jahitan, selanjutnya dengan adanya kemajuan teknologi, sayatan tersebut makin pendek dimana pada saat saya melakukan operasi katarak yang lalu hanya sekitar 2 mm yang tidak memerlukan jahitan. Kabarnya teknologi yang terbaru hanya memerlukan sayatan 1 mm saja!
Mengenai lensa mata, seseorang yang melakukan operasi katarak adalah mengganti lensa mata yang sudah keruh dengan lensa buatan yang baru, jadi saya kira anda tidak perlu ragu bahwasanya adanya perbedaan biaya tersebut timbul kekawatiran lensa mata kakek anda hanya “diservis” saja, tidak diganti yang “brand new”.
Akhirnya kami sekeluarga mendoakan agar operasi katarak kakek anda dapat berjalan dengansukses dan lancar, amin.
operasikatarak said
boleh saya kasih info kebetulan saya marketing di salah satu klinik Spesialis mata, mungkin info ini bermanfaat bagi kita semua bisa klik:
http://operasikatarak.wordpress.com/
http://operasikatarak.wordpress.com/2009/08/10/operasi-katarak-murah/
sekedar bagi info aja
terimakasih