Pengalaman Operasi katarak
Posted by dwiswn on November 10, 2007
Sekitar dua-tiga tahun lalu saya merasa ada suatu kelainan penglihatan pada salah satu mata saya, dalam hal ini mata sebelah kanan. Kelainan tersebut adalah, apabila melihat melalui mata kanan saja, obyek yang nampak seakan-akan terhalang suatu lapisan tipis, semacam melalui kaca mata pengaman pada helm yang masih lumayan baru. Gangguan ini kurang saya perhatikan karena memang sejak dulu saya sudah berkacamata minus, selain itu juga tidak ada gangguan lainnya misalnya adanya rasa sakit atau nyeri, pusing, mata lelah dll. Beberapa bulan kemudian gangguan penglihatan pada mata kanan tersebut saya rasakan semakin besar, berupa seakan-akan melihat melalui kantung plastik atau kacamata helm yang berdebu. Akibatnya apabila melihat langsung lampu yang sedang menyala menjadi sangat menyilaukan. Betul betul sangat mengganggu khususnya pada saat mengemudikan mobil dimalam hari. Setelah berkonsultasi ke dokter mata, mata sebelah kanan dinyatakan kena katarak ringan. Oleh dokter saya diberi vitaman sari bilberry dan dua macam obat tetes, pertama untuk memperlambat atau mengurangi katarak, satunya lagi berfungsi memperlebar sementara kornea. Mata kanan saya yang buram kalau digunakan melihat menjadi terang dan bersih layaknya mata kiri saya apabila habis ditetesi obat mata yang kedua. Tentu saja saya merasa senang dan tenang, saat itu saya merasa bahwa permasalahan mata kanan saya sudah beres, layaknya mata yang sehat, kalau kena debu, kabur, gatal-gatal, merah, atau pedih gara-gara kemasukan sabun misalnya, tinggal ditetesi obat tetes mata biasa, langsung enak dan sejuk kembali. Selanjutnya, apabila obat tetes yang kedua tersebut habis, dengan mudah saya beli lagi ke apotik sambil membawa botol bekasnya, padahal seharusnya menggunakan resep dokter. Kondisi mata kanan saya yang buram ditetes bersih, buram ditetesi bersih ini berjalan cukup lama juga, sekitar satu tahun lebih. Dengan berlalunya waktu, ternyata obat tetes yang awalnya bisa membeningkan penglihatan tersebut sudah tidak mampu lagi. Mata yang habis ditetesi cuman sedikit bening saja, cahaya lampu mobil tetap menyilaukan dan sumber cahaya lampunya melebar. Akhirnya saya berkonsultasi dan memeriksakan diri ke dokter lagi. Kali ini katarak pada mata kanan saya oleh dokter dinyatakan sudah matang, siap dioperasi.
Operasi katarak.
Yang dimaksudkan dengan katarak adalah berkurangnya kejernihan lensa mata, umumnya karena pertambahan usia. Lebih lanjut dapat dibaca di
http://www.cataract.com.sg/abtcat.htm.
Setelah menimbang berbagai sisi meliputi ketersediaan peralatan dan teknologi, reputasi dokter dan rumah sakit mata, serta biaya, saya merasa mantap operasi katarak di Rumah Sakit Undaan, Surabaya.
Sebagai persiapan awal sebelum operasi, tekanan bola mata, tekanan darah dan gula darah mutlak harus di normalkan dulu. Sejauh mana dianggap normal, untuk tekanan darah dan gula darah adalah yang sudah biasa kita kenal bersama melalu hasil pemeriksaan lab klinik, sedangkan mengenai tekanan bola mata, alat ukurnya hanya ada ditempat praktek dokter mata. Caranya, setelah ditetesi semacam obat tetes mata yang terasa agak pedih, tunggu sebentar, dokter menempelkan suatu alat ke bola mata saya, untuk kasus saya dokter menyatakan normal, artinya dari sisi tekanan bola mata, saya siap operasi.
Gula darah saya juga masih masuk dalam batas normal, sedangkan tekanan darah dinilai tinggi, yaitu saat di ukur di tempat praktek dokter mata, tekanan darah saya adalah 150/90, oleh sebab itu saya di rujuk ke dokter spesialis penyakit dalam. Karena nilai tekanan darah untuk orang berusia 50 an seperti saya masih dalam katagori agak tinggi saja, saya hanya diberi obat penurun tekanan darah yang ringan sebanyak 10 tablet diminum satu tablet sehari. Tiga hari kemudian saya kembali memeriksakan diri ke dokter mata untuk memeriksa ulang kondisi tekanan darah saya dan kalau sudah dinyatakan OK sekalian menentukan kapan dapat dilakukan operasi. Saat itu ternyata tekanan darah saya cukup baik, yaitu 140/80. sehingga pembicaraan dengan dokter bisa langsung menentukan kapan dapat dilakukan operasi disertai memberikan pendahulan penjelasan perihal beberapa paket operasi katarak yang tersedia. Saya memilih paket yang saat ini termasuk modern, yaitu sistem operasi katarak yang disebut “phaco emulsification” dan penggunaan lensa implant (lensa yang ditanam) yang bisa dilipat dulu (foldable lense) saat di tanamkan ke rumah lensa mata saya.
Keuntungan dari sistem ini adalah, sayatan untuk mengeluarkan lensa mata saya yang keruh cukup kecil saja sekitar 3 mm, caranya lensa mata saya diemulsikan lebih dulu sehingga hancur dan dapat dikeluarkan melalui sayatan kecil tersebut. Selanjutnya karena menggunakan lensa yang awalnya terlipat, lensa implant yang baru dapat langsung dimasukkan cukup melalui sayatan yang ada, tidak perlu dilebarkan lagi, alhasil karena sayatan yang ada cukup kecil tidak perlu dijahit dan penyembuhan lebih cepat. Di Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya, biaya untuk paket tersebut adalah 8.2 juta. Apabila dibandingkan operasi di Singapore (dapat dilihat dari link diatas) dengan sistem yang sama ternyata jauh lebih mahal, berkisar dua sampai empat kalinya.
Sebagaimana layaknya ganti kacamata, lensa pada mata manusia ternyata mempunyai ukuran yang berbeda-beda juga, oleh sebeb itu sebelum operasi, perlu dilakukan pengukuran lensa mata saya guna menentukan ukuran lensa implant berapa saja yang cocok. Dari hasil pemeriksaan, ternyata saya kurang beruntung karena ketersediaan lensa implant yang pas untuk saya di rumah sakit ini lagi kosong, jadi terpaksa menunggu kiriman sekitar dua hari. Oleh pihak rumah sakit saya dijanjikan akan ditelpon apabila lensa yang saya butuhkan sudah tiba. Benar juga, keesokan harinya saya ditelpon oleh rumah sakit bahwa lensa yang saya perlukan sudah datang. Oleh dokter dinyatakan operasi bisa dilakukan besok pagi jam 8.00 pagi, sedangkan saya harus hadir dua jam sebelumnya. Persiapan dirumah sebelum operasi tidak ada yang spesifik, makan seperti biasa saja.
Sesuai hari yang disepakati, jam 6.00 saya sudah hadir dirumah sakit. Tenggang waktu dua jam ini digunakan sebagai persiapan operasi meliputi pemeriksaan dan menormalkan tekanan darah, mencukur bulu mata dan melebarkan kornea melalui pemberian tetes mata. Dalam pemeriksaan, tekanan darah saya lebih baik dan normal dari sebelumnya, beberapa kali pengukuran menunjukkan 130/80. Selama itu saya disarankan tidur2an saja menunggu saat operasi diruang rawat inap, sementara itu baju dan celana untuk operasi warna hijau muda sudah saya kenakan. Sekitar seperempat jam sebelum operasi, saya dipanggil masuk ke dalam bangunan khusus operasi. Jarak kedua gedung yang menempel ini sekitar 20 an meter. Saya juga diharuskan menumpang kursi roda yang sudah disediakan walaupun sebenarnya saya rasakan tidak perlu. Saya lihat di lorong tersebut telah menunggu beberapa pasien lainnya. Ruang operasi disini rupanya cukup banyak juga, kelihatannya lebih dari lima ruangan. Sambil menunggu giliran, salah satu perawat yang saya sangat ramah memberi saya topi kain dan membantu memakaikannya dikepala saya, telinga kanan saya juga disumbat dengan kapas, gunanya adalah agar selama operasi dilakukan, aliran air peralatan selama operasi dilakukan tidak masuk ke telinga saya.
Tidak lama kemudian saya dipanggil serta dituntun secara sangat hati-hati oleh seorang perawat masuk keruang operasi.
Ruang operasi tersebut berukuran sekitar empat kali enam meter dengan posisi meja operasi di tengah-tengah. Saya perhatikan berbagai peralatan yang bergelantungan seputar meja atau tempat berbaring operasi seperti peralatan dokter gigi. Setelah disuruh berbaring, saya diselimuti sampai keleher, sementara itu tangan dan kaki tidak diikat dan tekanan darah tidak dimonitor seperti saat saya operasi usus buntu enam tahun yang lalu. Beberapa saat kemudian dokter masuk ruang operasi. Setelah basa-basi sebentar dengan saya, dokter melanjutkan berbicara dengan dua perawat yang membantu operasi, kelihatannya mengkonfirmasi kesiapan melakukan operasi. Setelah semuanya OK, saya disuntik pemati rasa satu kali pada sekitar atas pipi bawah kelopak mata kanan saya serta pada mata saya di tetesi obat tetes pemati rasa. Wajah saya kemudian ditutup dengan kain yang berlubang pada posisi mata yang akan dioperasi. Pengaruh obat pemati rasa terasa biasa saja, tidak terasa tebal seperti pemati rasa saat cabut gigi. Selama operasi saya tetap sadar, perasaan juga biasa saja. Saat operasi rupanya banyak menggunakan air yang membasahi sebagian punggung kanan saya. Ketidak nyamanan yang saya rasakan adalah akibat silaunya pandangan. Tahapan operasi yang meliputi penyayatan, pengeluaran lensa yang keruh serta penananam lensa baru, kalau tidak diberi tahu oleh dokter yang mengoperasi, saya tentulah tidak tahu, saat itu rasanya hanya cahaya silau lalu lalang di mata saya saja. Operasi ternyata cukup singkat saja, sekitar 20 menit sudah selesai, cepit pembuka kelopak mata dilepas, saya disuruh memejamkan mata untuk selanjutnya ditutup perban. Kembali saya dituntun secara lebih hati-hati oleh perawat keluar ruang operasi tetapi masih dibangunan utama operasi. Sambil duduk dengan mata yang habis dioperasi di tutup perban, saat itu saya hanya merasa agak pening sebentar. Beberapa saat kemudian saya dituntun lagi menuju kursi roda yang sudah disediakan, yang kali ini saya rasakan perlu dan nyaman tinggal duduk saja membawa saya ke ruang rawat inap. Beberapa saat kemudian saya diberi suntikan antibiotika dan anti radang. Sebenarnya setelah beristirahat sekitar setengah jam, saya sudah diijinkan pulang untuk sore harinya kembali lagi diberi suntikan yang diperlukan, tetapi untuk kepraktisan, saya tunggu saja sampai jadual suntikan bisa diberikan yaitu sekitar jam 3 sore. Demikianlah, selesai disuntik, menyelesaikan urusan admnstrasi pembayaran dan pesan dokter agar kembali lagi besok paginya, saya pulang kerumah. Tidak ada kewaspadaan khusus yang harus saya patuhi, umumnya secara logika tentulah harus demikian, antara lain tidak boleh kemasukan air, kena sabun, mengucek-ucek mata, membungkuk terlalu dalam dll. Selama dirumah mulai sore, malam hari, tidur, sampai pagi harinya saya tidak merasa ada sesuatu yang mengganggu, hanya terasa agak gatal saja pagi harinya. Malam itu sebenarnya saya sangat ingin sedikit menggeser perban yang menutup mata saya rapat sekali, untuk sekadar men tes hasil operasi, tapi rupanya perban menutup sangat rapat, saya gagal mencari celah, akhirnya saya pikir OK lah besok saja, sedikit kesabaran sekitar 10 jam an.
Sesuai pesan dokter, keesokan harinya sekitar jam 07.30 pagi saya sudah hadir kembali di rumah sakit. Masuk keruang praktek dokter, inilah saat yang saya tunggu yaitu melepas perban. Begitu perban di lepas, byar, saya merasa obyek seputar ruang praktek begitu terang. Selama sekitar satu tahun praktis melihat dengan satu mata, dengan dua mata saat itu, saya melihat kedalaman suatu obyek menjadi begitu nyata. Selanjutnya kondisi hasil operasi diperiksa lagi dan dilakukan pengetesan melihat jauh dengan membaca huruf berbagai ukuran seperti di toko kacamata, disini ternyata saya mampu membaca sampai dengan ukuran diatas huruf yang terkecil, kondisi yang dianggap sangat bagus. Berikutnya saya diberi resep obat tetes mata antibiotika dan anti radang, sedangkan mata saya yang habis operasi dibiarkan terbuka tidak diperban. Sebagai pilihan saya boleh menggunakan semacam kaca bundar yang bening, dibeli diapotik untuk menutupi mata, untuk mencegah debu masuk. Selama perjalanan pulang tiada henti saya memandang jalan, bangunan, pohon dan lain2 yang terlihat lebih jernih dan betul betul nampak kedalaman atau perbedaan jarak antar obyek. Hari ini adalah hari ketiga setelah operasi, rasa gatal yang sebelumnya kadang kadang timbul tidak lagi saya rasakan. Saya betul betul merasa nyaman.
Sesuatu yang saya sesali saat itu hanya, mengapa tidak lebih awal saya melakukan operasi katarak ini.
Ilustrasi :
penglihatan mata yang normal :
Awal katarak :
Sebelum operasi :



November 10, 2007 at 11:18 pm
Wah, ciamik,ternyata operasi katarak sangat simple, apalagi kalau dibandingkan dengan hasil yang dicapai setelah operasi. Saran : bisa di info biayanya hehe….
November 12, 2007 at 3:23 am
Thanks for the response. As it is written above (maybe not clear enough to see… my mistake), the cost was 8.2 million rupiahs, compared to Singaporean hospital this amount could be twice to four times.
November 13, 2007 at 5:45 am
Dear Mas Dwi,
Syukur kalau operasinya sudah sukses dan bisa melihat seperti sediakala, cuma saya mau tanya
1. Kira-kira umur berapa rata2 yang kena katarak..?
2. Sekarang menggunakan kacamata khusus atau sama seperti sebelumnya..? minusnya tambah atau plusnya.
Salam,
Nanang
November 13, 2007 at 6:03 am
Dear Mas Nanang,
1. Mengenai umur rata2 kena katarak, menurut dokter mata yang yang memeriksa saya, sesorang kena katarak seperti layaknya rambut ubanan, jadi tidak tentu. Saya sendiri usia 50 an sudah kena katarak (kasus sangat kecil), diduga oleh dokter, selain karena penuaan, dulunya mungkin mata kanan saya ini pernah kena trauma, ini ditunjang dengan kondisi mata kiri saya yang masih bersih, sementara kalau kataraknya semata-mata karena aging, kalau salah satu mata kataraknya sudah matang, kondisi mata yang satunya setidaknya sudah ada sedikit kekeruhan.
2. Idealnya untuk melihat jauh tidak memerlukan kacamata, sementara itu untuk melihat dekat atau membaca tetap membutuhkan kacamata plus.
November 14, 2007 at 3:05 pm
Dwi, syukur sudah sukses operasinya, semoga segera sembuh total dan lebih segar dari mata bayi. Jangan-jangan malah bisa tembus kain, wah gawat…Tp kalau bisa cukup tembus kain saja, jangan sampai tembus kulit, malah nggilani…
Terima kasih infonya.
November 14, 2007 at 3:07 pm
Dear Bud,
Terima kasih atas simpati dan intermeso nya…..hehehe…..anda betul juga.
Salam untuk keluarga.
November 14, 2007 at 3:08 pm
Dear Dwi,
Kakak ku juga baru operasi bln Mei lalu dan sukses, operasinya di JEC, kemudian wkt operasi katara ketahuan retinanya retak dan 2 minggu lalu di Laser argon, dan sekarang sdh ok…
Selamat ya Dwi menikmati ciptaan Tuhan dengan lebih indah….
Salam,
Mary
November 14, 2007 at 3:18 pm
Dear Mary,
DearMary
Betul sekali saya sekarang lebih sangat menikmati ciptaan Tuhan dengan lebih indah, terima kasih.
Mengenai retina, karena usia saya yang “baru” 50 an (sebenarnya termasuk jarang sudah terkena katarak) ditambah dengan kondisi mata kiri (yang sehat) ternyata masih bersih/jernih sehingga dikawatirkan mata kanan saya ada kelainan lain, saya juga dirujukkan ke dokter mata sub retina, beruntung ternyata masih OK. Saya juga ikut dan bisa merasakan kebahagiaan kakak anda.
November 27, 2007 at 6:38 am
Wah selamat dan syukur cak, sampeyan wis iso nyawang padang howo maneh, saiki terang benderang ya? Slametane kudu sing imbang, nek perlu ngajak aku nang XO suki, he..he. Tapi nek mlaku2 karo bojo sampeyan sing ati2, nek ana wong wedok ayu aja mentheleng kaya cameraman mengko dikudang bojo sampeyan. Tapi nek mlaku2 ijen bolehlah sampeyan pelajari perbedaan sebelum dan sesudah operasi, mulai dahi,alis, bibir, dst. Eiit cari perkara! Kapan pul kumpul?
sidi
November 28, 2007 at 12:05 pm
Halo Mas Sidi,
Terima kasih atas intermezzo nya.
Nek soal ke XO suki, ..hehe…lha tinggal di runding waktunya saja.
Sekali lagi maturnuwun.
August 19, 2008 at 6:37 am
Hallo Mas Dwis
Saya disarankan oleh dokter untuk operasi Phaco.
Setelah membaca tulisan pengalaman Anda ini, saya menjadi lebih berani menghadapi operasi katarak ini.
Terima kasih dan Salam,
Isnan
Serpong Tangerang
August 19, 2008 at 8:11 am
Halo juga mas Isnan,
Silakan segera melakukan operasi saja, mas, semoga sukses dan lancar. Hingga saat ini (Agustus 2008 hasil operasi sangat OK, bahkan saya rasakan lebih terang daripada lensa mata saya yang satunya, yang asli. Komentar kawan saya, lha iya pak Dwi, khan lensa mata anda yang asli sudah dipakai lebih dari 50 tahun!…hehe..