KOMPAS 14 Nopember 2007 :
Ciputra: Atasi Macet dan Banjir, Bangun Jalan Bawah Tanah
JAKARTA, KOMPAS – Pengusaha properti terkemuka, Ciputra, mengusulkan agar pemerintah bersama-sama pihak swasta segera membangun terowongan bawah tanah untuk mengatasi persoalan kemacetan dan banjir di Jakarta.Dalam percakapan dengan Kompas, Senin (12/11) sore, Ciputra menyatakan mendukung jika pemerintah memutuskan membangun terowongan bawah tanah. “Kita dapat membangun terowongan itu sedalam 60 meter sampai 70 meter ke bawah,” katanya.
Di terowongan itu dapat dibangun jalan tol bawah tanah dan subway. Selain itu, dapat juga dibangun saluran yang mengalirkan air limpahan genangan banjir langsung ke laut melalui bawah tanah. “Namun, sebelum masuk ke laut, air itu dapat diolah lagi menjadi air minum. Pihak swasta dapat memanfaatkannya menjadi bisnis,” ungkap Ciputra.
Bisnis “bawah tanah” lainnya, seperti jalan tol dan subway, juga dapat dikembangkan dengan pembangunan mal atau pusat perbelanjaan bawah tanah, yang terkoneksi dengan bangunan di atasnya pada simpul tertentu.
Ciputra berpendapat, pembangunan ini sanggup dikerjakan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak swasta. “Keuntungannya, kita tak perlu lagi membebaskan tanah karena lokasinya ada di bawah tanah. Jadi, tinggal membangun infrastruktur bawah tanah itu,” ujarnya.
Ciputra menambahkan, pembangunan serupa sudah dilaksanakan di Kuala Lumpur, Malaysia; dan Bangkok, Thailand. (KSP)
——————————————————
Berita dari Kompas diatas sangat menarik bagi saya, walaupun saya selama ini bertempat tinggal di Surabaya yang tingkat kemacetannya tidak parah, yang sangat berbeda dengan situasi kemacetan Jakarta saat ini. Hari ini adalah hari Sabtu, 17 Nopember yang artinya sudah tiga hari berita tersebut dimuat di Kompas, saya amati kok belum ada yang menulis atau memberikan tanggapan atas statement Bapak Ciputra tersebut, utamanya dari masyarakat Jakarta sendiri. Seakan gayung tidak bersambut.
Mengomentari salah satu sisi saja dari pembuatan terowongan, yaitu pembangunan rel kereta api subway (selain sebagai penampungan air hujan, mencegah banjir, dan jalan raya bawah tanah) keberadaan angkutan masal kereta api bawah tanah atau subway dibanyak perkotaan yang lazim disebut metro ini benar-benar dirasakan manfaatnya. Media masa memberitakan bahwa minggu lalu Perancis dilanda pemogokan pegawai kereta api, yang mengakibatkan kacau balaunya urusan transportasi di negara tersebut, menunjukkan sedemikian vitalnya mode trans ini.
Hampir semua kota besar, baik yang secara internasional sudah sangat populer, kota2 dagang dunia, ibukota negara, maupun kota yang mungkin masih sangat asing bagi kita saat ini sudah punya subway.
silakan klik : http://people.reed.edu/~reyn/transport.html
Menggunakan jasa metro atau kereta api bawah tanah sebagai alat transportasi di kota besar, terasa menyenangkan : tersedia peta yang jelas, berupa cetakan dan gambar di setiap mesin tiket, biaya umumnya murah, tepat waktu dan bagi yang kurang pintar menggunakan bahasa setempat, penjualan tiket metro umumnya menggunakan mesin tiket, yang dari satu kota lintas negara umumnya hampir mirip cara pengoperasiannya sehingga bahasa bukanlah merupakan kendala. Ini tentu berbeda dengan naik taksi. Dengan naik taksi kita memang bisa “sight seeing”, tetapi kadang2 perlu menggunakan bahasa setempat (misalnya di China), lebih mahal, tidak bebas macet dan kalau lagi sial bisa kena tipu juga.
Ditinjau dari sisi teknik, pembuatan terowongan untuk subway di perkotaan nampaknya bukanlah suatu “ilmu baru” (lihat link diatas), sudah banyak dilakukan sejak puluhan tahun lalu, sehingga tentunya sudah banyak pula tenaga ahlinya. Sementara itu untuk urusan pembebasan tanah yang merupakan faktor sangat krusial di Jakarta sebagai mana yang disampaikan pak Ci juga sangat sedikit, cuma untuk stasiunnya saja.
Dari sisi biaya secara nominal memang besar, tetapi perlu diingat bahwa Indonesia merupakan negara besar. Negara seluas Indonesia, diumpamakan kumpulan arisan, punya anggota yang sangat banyak, jadi biarpun setiap anggota arisan setorannya kecil, saking banyaknya akan menghasilkan nominal yang besar juga demi untuk kebutuhan mendesak ibukota negaranya. Boleh jadi kita dibuat silau saat melihat dan mengamati desain arsitektur dan kecanggihan stasiun metro di MRT Singapore, Bangkok Metro atau MRT nya KL Malaysia. Ya memang karena negara-negara tetangga kita ini jaringan metronya masih baru, jadi sekalian saja mengadobsi teknologi dan sistem terbaru, canggih, mewah yang mungkin bisa membuat “minder”. Padahal sebenarnya tidak harus demikian. Ibarat toko, bisa mewah seperti di mall, atau biasa saja seperti toko tradisional, yang penting bisa terjadi transaksi jual beli. Kebetulan saya mempunyai foto jadul salah satu stasiun metro di DC, US, sekitar awal tahun 90 an. Kelihatan bahwa pada saat itu stasiun metro bawah tanahnya kayak goa, atapnya melengkung kelihatan besi-besinya dan tidak dilengkapi dengan safety door sehingga lorong rel kelihatan menganga. Sementara itu stasiun metro di banyak kota besar China, misalnya Guangzhou, umumnya tidak menyediakan eskalator turunan, hanya untuk naik saja, bahkan di stasiun “pinggiran” kawasan lama, cuma menyediakan eskalator satu segment naik saja, jadi yang dua segment pendek atau satu panjang disuruh jalan kaki. Uniknya, supaya pejalan kaki tidak mengomel, dibeberapa tempat diberi tulisan bahwa jalan kaki naik tangga adalah baik untuk jantung !. Beberapa stasiun yang lama juga tanpa safety door.
Mengenai Guangzhou Metro silakan klik : http://www.urbanrail.net/as/guan/guangzhou.htm
Dari sisi sosial budaya, mungkin timbul keraguan atas kemampuan masyarakat Jakarta yang biasa tidak disiplin, dan perilaku2 negatif lainnya, bolehlah kita bandingkan dengan India yang masyarakatnya juga sangat beragam, pada kenyataannya saat ini sudah punya metro dibeberapa kota besarnya, antara lain bisa klik :
http://www.delhimetrorail.com/commuters/traveling_bymetro.html
Demikianlah, apabila Jakarta masih dianggap sebagai layaknya kota-kota besar lainnya didunia, penyelesaian problematika kemacetan lalu lintasnyapun adalah yang sudah lazim, paling umum diterapkan, inilah, hanya dengan membangun jaringan subway, bukan yang lain.
Dalam catatan saya setidaknya ada dua “keajaiban” tangan dingin Pak Ciputra, pertama : menyulap Ancol dari “tempat jin buang anak” menjadi seperti sekarang ini. Kedua : proyek Perumahan Citra Raya Surabaya, dengan keajaiban berupa betul-betul kawasan bebas parkir (yang sebelumnya terasa muskil membebaskan satu kawasanpun dari perparkiran di Surabaya), selain sebagai kawasan perumahan yang aman, nyaman, bersih.
Apabila bagi banyak orang merupakan “ketidak-mungkinan”, tidak bagi bapak Ciputra. Pernyataan bapak Ciputra patutlah di cermati dan di tindak lanjuti.
![]()


